Betterplace blue logo

Properti Lombok dan Sumba: Peluang Investasi Properti yang Muncul

Jelajahi peluang investasi properti yang sedang berkembang di Lombok dan Sumba, mulai dari properti wisata di Lombok hingga peluang tanah dan perhotelan mewah di Sumba.
Dibuat:
Diperbarui:
Waktu baca: 10 min
post image

Bali telah lama menjadi salah satu pasar properti paling mapan di Indonesia, menarik pembeli yang mencari rumah liburan, vila sewaan, tanah, dan peluang investasi jangka panjang. Namun seiring dengan kematangan pulau ini, perhatian semakin bergeser dari Bali ke arah kepulauan Indonesia yang lebih luas.

Dua destinasi menarik minat khusus: Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT). Keduanya menawarkan garis pantai yang indah, potensi pariwisata yang berkembang, dan peluang investasi properti. Namun keduanya berada pada tahap perkembangan yang sangat berbeda.

Investasi properti di Lombok sudah didukung oleh meningkatnya jumlah pengunjung, konektivitas yang membaik, pengembangan Mandalika, dan ekosistem pariwisata yang berkembang. Sementara itu, Sumba masih merupakan pasar yang jauh lebih kecil dan sedang berkembang, di mana peluangnya sangat terkait dengan tanah, perhotelan butik, pariwisata mewah, dan pengembangan jangka panjang.

Bagi investor yang mempertimbangkan investasi properti di Lombok dan Sumba, memahami perbedaan ini sangat penting. Dan saat Betterplace memperluas jangkauannya dari Bali ke kedua destinasi ini, kami melihat lebih dekat apa yang terjadi di lapangan dan apa artinya bagi pasar properti.

Mengapa Melihat Lebih Jauh dari Bali untuk Investasi Properti?

Bali tetap menjadi salah satu destinasi pariwisata internasional dan properti paling mapan di Indonesia. Kematangan ini menciptakan keuntungan, tetapi juga berarti investor mulai melihat bagian lain dari negara ini untuk tahap pertumbuhan berikutnya. Lombok dan Sumba menawarkan titik awal yang berbeda.

Ada lebih banyak ruang untuk pengembangan baru, terutama di area pariwisata yang sedang berkembang. Pada saat yang sama, kedua destinasi ini sudah memiliki atraksi yang mapan yang menarik wisatawan internasional ke pantainya. Poin pentingnya adalah bahwa kedua pasar ini tidak boleh dianggap sekadar sebagai "Bali berikutnya."

Properti di Lombok dan Sumba memiliki pola permintaan, infrastruktur, profil pariwisata, dan pertimbangan investasi yang berbeda. Bagi investor, hal ini dapat menciptakan peluang tetapi juga berarti melakukan riset yang tepat sebelum membeli tanah atau properti.

Investasi Properti Lombok: Pasar yang Terus Berkembang

Di antara kedua destinasi, Lombok saat ini memiliki ekosistem pariwisata dan properti yang lebih berkembang. Data menunjukkan peningkatan aktivitas di beberapa bidang.

Bandara Lombok mencatat sekitar 1,3 juta penumpang selama paruh pertama 2026, naik 16,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan pesawat meningkat sebesar 30,7%, sementara volume kargo bandara naik 27,5%. Kedatangan wisatawan asing melalui bandara pada April 2026 juga naik 11,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Kawasan Mandalika juga mengalami peningkatan aktivitas pengunjung. Menurut ITDC, Mandalika mencatat 685.844 kunjungan wisatawan selama paruh pertama 2026, meningkat 17,39% dari periode yang sama pada 2025. Rata-rata tingkat hunian juga naik dari 44,94% menjadi 50,95%.

Bagi investor yang meneliti investasi properti Lombok, pertumbuhan aktivitas ini penting karena pariwisata adalah salah satu pendorong utama permintaan akomodasi, perhotelan, dan bisnis pendukung. Pertumbuhan ini tidak terbatas hanya di Mandalika. Lombok Barat mencatat 444.627 kunjungan wisatawan pada 2025, dibandingkan 320.658 pada 2023. Komposisi pengunjung juga berubah signifikan, dengan wisatawan internasional mengambil porsi lebih besar dari total kunjungan. Bersama-sama, angka-angka ini menunjukkan pasar yang semakin aktif.

Efek Mandalika

Saat membahas investasi properti di Lombok, Mandalika sulit untuk diabaikan. Kawasan Ekonomi Khusus ini telah menjadi salah satu jangkar pariwisata terpenting di pulau ini, terutama melalui acara olahraga dan hiburan besar. Event MotoGP 2025 menarik sekitar 142.000 penonton, sementara Mandalika juga sudah dikonfirmasi dalam kalender MotoGP 2026.

Pembangunan kawasan ini juga membawa infrastruktur, perhotelan, dan aktivitas komersial yang dapat memengaruhi lokasi sekitarnya. Namun bagi investor properti, ini tidak berarti membeli langsung di dalam Mandalika adalah satu-satunya pilihan. Koridor yang lebih luas, termasuk area seperti Kuta Lombok, Selong Belanak, Mawi, dan Gerupuk, adalah tempat pengembangan perumahan pribadi dan perhotelan berlangsung. Ini menciptakan cara yang lebih luas untuk melihat investasi properti Lombok; bukan hanya sebagai investasi di satu zona pariwisata, tetapi sebagai partisipasi dalam pertumbuhan destinasi yang berkembang.

Konektivitas adalah Bagian Penting dari Cerita

Pasar properti sangat terkait dengan aksesibilitas. Konektivitas udara Lombok berkembang seiring dengan pertumbuhan penumpang. Penelitian menunjukkan adanya koneksi tambahan ke destinasi seperti Singapura, Jakarta, Banyuwangi, Malang, dan Labuan Bajo, sementara rute internasional potensial lainnya juga telah dibahas.

Pemerintah Indonesia juga memposisikan NTB sebagai area untuk investasi lebih lanjut di sektor pariwisata dan sektor lainnya. Pada Juni 2026, pemerintah provinsi menyoroti proyek pariwisata termasuk peluang akomodasi premium di sekitar Mandalika, Gili Gede, dan Pantai Kerakas. Bagi seseorang yang mempertimbangkan membeli properti di Lombok, kombinasi aktivitas pariwisata, pengembangan infrastruktur, dan minat investasi ini memberikan latar belakang yang penting.

Sebagai pasar yang sedang berkembang, setiap area dapat menawarkan lanskap investasi yang berbeda, sehingga faktor seperti lokasi, akses, sertifikat tanah, pengembangan sekitar, dan permintaan sewa layak dipertimbangkan bersama tren pasar yang lebih luas.

 

Jelajahi Peluang Properti Lombok →

Investasi Properti Sumba: Peluang yang Berbeda

Jika Lombok sedang memasuki fase pertumbuhan yang lebih mapan, investasi properti Sumba adalah cerita yang masih sangat awal. Pulau ini telah menarik perhatian internasional melalui pantai, lanskap, selancar, budaya, dan perhotelan mewahnya. Namun jumlah pengunjung masih relatif kecil dibandingkan dengan destinasi pariwisata yang sudah matang.

Di Sumba Timur, misalnya, otoritas pariwisata setempat mencatat 41.524 kunjungan wisatawan pada 2025, termasuk 36.242 wisatawan domestik dan 5.282 wisatawan internasional. Rata-rata lama tinggal sekitar tiga malam. Selama Januari hingga Juni 2026, Sumba Timur mencatat 20.460 kunjungan, termasuk 2.058 wisatawan internasional. Otoritas lokal sedang berupaya meningkatkan konektivitas, infrastruktur, paket pariwisata, dan pengembangan destinasi, dengan tujuan memperpanjang masa tinggal pengunjung.

Angka-angka ini berguna untuk menempatkan peluang dalam perspektif. Sumba masih merupakan pasar pariwisata yang relatif berkembang, dengan ruang bagi ekonomi pengunjung dan lanskap properti untuk tumbuh seiring waktu. Dan itulah bagian yang membuat pulau ini berbeda.

Daya Tarik Properti Sumba

Pasar properti Sumba dibentuk lebih oleh konsep destinasi premium yang berfokus pada alam daripada pariwisata massal. Pulau ini sudah memiliki nama perhotelan mewah yang diakui secara internasional, termasuk Nihi Sumba dan Cap Karoso, yang membantu menetapkan Sumba sebagai destinasi yang terkait dengan perjalanan kelas atas dan pengalaman berbasis alam. Ketersediaan lahan yang lebih luas dan kepadatan pengembangan yang relatif rendah juga menambah daya tarik pulau ini bagi investor yang menjajaki proyek tanah dan perhotelan.

Ini menciptakan peluang investasi properti Sumba yang berbeda. Alih-alih hanya fokus pada kinerja sewa jangka pendek, investor mungkin melihat tanah untuk tempat tinggal pribadi di masa depan, vila butik, proyek perhotelan kecil, atau pengembangan jangka panjang. Ini juga berarti horizon investasi bisa menjadi pertimbangan penting. Sumba masih dalam proses pembentukan sebagai destinasi, jadi memahami lokasi, pengembangan sekitar, akses, dan potensi permintaan dapat membantu investor menilai peluang dalam konteks pasar properti pulau yang sedang berkembang.

Investasi Properti Lombok vs Sumba

Lombok saat ini memiliki aktivitas pariwisata yang lebih kuat, infrastruktur yang lebih berkembang, dan ekosistem sewa serta perhotelan yang tumbuh. Area sekitar Mandalika dan Lombok Selatan sudah melihat minat signifikan terhadap vila, akomodasi, dan tanah.

Sumba, sebagai perbandingan, memiliki basis pengunjung yang jauh lebih kecil dan infrastruktur yang kurang berkembang. Daya tariknya lebih terkait dengan tanah, eksklusivitas, pariwisata mewah, dan pengembangan jangka panjang.

Perbedaan ini layak dipertimbangkan saat melihat investasi properti di NTB dan NTT. Seorang investor yang mencari properti yang dapat masuk ke dalam ekosistem pariwisata yang sudah ada mungkin akan mendekati Lombok secara berbeda dibandingkan dengan seseorang yang melihat peluang tanah atau pengembangan jangka panjang di Sumba. Keduanya tidak boleh dievaluasi hanya berdasarkan harga utama atau proyeksi pengembalian.

 

Bandingkan Properti Lombok & Sumba →

Apa yang Harus Dipertimbangkan Investor Sebelum Membeli

Pasar yang sedang berkembang dapat menawarkan peluang, tetapi juga memerlukan uji tuntas yang cermat. Kepemilikan dan sertifikasi tanah harus diperiksa secara menyeluruh sebelum transaksi apa pun. Di Lombok, memahami sejarah dan latar belakang kepemilikan tanah di sekitar area seperti Mandalika bisa menjadi bagian penting dari proses uji tuntas. Di Sumba, pertimbangan adat atau adat juga mungkin menjadi bagian dari tinjauan tanah, sehingga berguna untuk melihat lebih jauh dari dokumentasi formal dan memahami konteks tanah yang lebih luas.

Infrastruktur adalah pertimbangan lain. Lombok mendapat manfaat dari bandara dengan lalu lintas yang tumbuh dan konektivitas yang berkembang, sementara Sumba masih lebih bergantung pada koneksi domestik. Konektivitas dapat langsung memengaruhi permintaan pariwisata dan oleh karena itu kinerja properti perhotelan. Investor juga harus berhati-hati dengan proyeksi hasil sewa dan angka apresiasi tanah.

Penelitian yang ditinjau untuk artikel ini tidak menemukan konfirmasi independen untuk beberapa angka yang sering dikutip, termasuk hasil sewa kotor sebesar 12–16% atau apresiasi tanah tahunan sebesar 15–25%. Angka-angka ini mungkin berguna sebagai proyeksi atau ekspektasi pasar, tetapi sebaiknya dipertimbangkan bersama data spesifik properti dan kondisi pasar saat ini, bukan sebagai tolok ukur pasar yang sudah mapan.

Pendekatan yang sama dapat diterapkan pada jumlah pengunjung. Pertumbuhan pariwisata secara keseluruhan dapat memberikan konteks yang berguna, sementara faktor seperti destinasi spesifik, profil pengunjung, musiman, dan lama tinggal dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana pertumbuhan tersebut dapat diterjemahkan menjadi permintaan untuk properti tertentu.

Betterplace Memperluas Jangkauan di Luar Bali

Seiring lanskap properti di seluruh Indonesia terus berkembang, Betterplace memperluas kehadirannya di luar Bali ke Lombok dan Sumba. Perluasan ini membawa pengalaman kami di bidang real estate, manajemen properti, penyewaan liburan, dan operasi perhotelan ke dua destinasi dengan peluang yang sangat berbeda.

Bagi pembeli, ini berarti dapat menjelajahi peluang properti di Lombok dan Sumba dengan tim yang memahami pasar properti Indonesia yang lebih luas. Bagi pemilik properti, ini juga menciptakan kemungkinan menggabungkan akuisisi properti dengan manajemen profesional dan operasi penyewaan saat pasar lokal terus berkembang.

Pendekatan kami tetap sama; memahami properti, memahami lokasi, dan membangun strategi investasi berdasarkan kondisi pasar yang realistis.

Melihat ke Depan untuk Lombok dan Sumba

Peluang investasi properti di NTB dan NTT bukan tentang mencari Bali lain. Ini tentang memahami apa yang sedang berkembang di setiap destinasi hari ini dan apa artinya bagi pemilik properti di tahun-tahun mendatang.

Lombok sudah menunjukkan pertumbuhan yang terukur dalam aktivitas bandara, kunjungan pariwisata, aktivitas Mandalika, dan investasi. Sumba masih jauh lebih kecil, tetapi posisi pariwisata premiumnya, lingkungan alam, dan infrastruktur yang berkembang menciptakan minat pada proyek tanah dan perhotelan. Bagi investor, langkah berikutnya bukan hanya memilih antara Lombok dan Sumba. Ini adalah mengidentifikasi lokasi yang tepat, jenis properti, struktur kepemilikan, horizon investasi, dan strategi operasional untuk peluang tersebut.

Saat Betterplace memperluas ke kedua destinasi ini, kami membangun kehadiran lokal kami untuk membantu pembeli dan pemilik properti menavigasi pasar yang sedang berkembang ini dengan pemahaman yang lebih dekat tentang peluang di lapangan. Mencari peluang investasi properti di Lombok atau Sumba? Bicaralah dengan Betterplace tentang tanah, vila, dan peluang real estate yang tersedia di NTB dan NTT.

 

Jelajahi Properti Lombok & Sumba →

 

Sumber:

  • BPS NTB — Rilis bulanan tentang kedatangan asing melalui Bandara Zainuddin Abdul Madjid

  • InJourney Airports / Bandara Lombok — Hasil lalu lintas paruh pertama 2026

  • ITDC dan Dewan KEK Nasional — Investasi dan angka kunjungan KEK Mandalika

  • DPMPTSP NTB — Investasi yang terealisasi menurut provinsi dan sektor

  • Pemerintah Kabupaten Lombok Barat — Statistik pengunjung 2023–2025

  • Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Sumba Timur, via ANTARA — Jumlah pengunjung Sumba

  • Kementerian Pariwisata — Distribusi investasi pariwisata dan destinasi prioritas

  • Publikasi Badan Lombok dan Sumba — Tolok ukur harga, diberi label sebagai pemasaran

Dapatkan rencana penjualan Bali yang dipersonalisasi

Ceritakan tentang properti dan tujuan Anda, dan kami akan menemukan pembeli yang tepat serta harga terbaik untuk vila Bali Anda

Ditulis oleh

author photo

Kirill Khudyakov

Head of Marketing

Dapatkan rencana penjualan Bali yang dipersonalisasi

Ceritakan tentang properti dan tujuan Anda, dan kami akan menemukan pembeli yang tepat serta harga terbaik untuk vila Bali Anda

Artikel lain

post image

Housekeeping di Bali: Orang-Orang di Balik Setiap Vila yang Terawat dengan Baik

Temukan orang-orang di balik setiap vila Bali yang terawat dengan baik dan pelajari mengapa housekeeping profesional memainkan peran penting dalam pengalaman tamu, perawatan properti, dan manajemen penyewaan liburan.
Dibuat:
Waktu baca: 7 min
post image

Jenis Properti di Bali: Vila, Apartemen, Loft, Rumah Kota & Lainnya

Jelajahi berbagai jenis properti di Bali, mulai dari vila dan apartemen hingga tanah, loteng, rumah kota, lahan, dan ruang komersial, serta temukan opsi mana yang sesuai dengan tujuan Anda.
Dibuat:
Waktu baca: 10 min
post image

Membeli Apartemen di Bali: Mengapa Ini Bisa Menjadi Investasi Properti Anda Berikutnya

Membeli apartemen di Bali dapat memberikan trifecta gaya hidup yang langka! lokasi utama dan pendapatan sewa yang nyata, tetapi hanya jika Anda tahu pasar mikro, struktur kepemilikan, dan pengaturan manajemen mana yang benar-benar berkinerja. Sebagai tim penjualan dan manajemen properti terkemuka di pulau ini, Betterplace menunjukkan kepada Anda dengan tepat apa yang harus dicari sebelum Anda menandatangani.
Dibuat:
Waktu baca: 5 min
post image

Bagaimana AI dan Penetapan Harga Dinamis Mengubah Pasar Sewa Liburan di Bali

Temukan bagaimana AI dan penetapan harga dinamis mengubah pasar penyewaan liburan di Bali. Pelajari bagaimana Betterplace membantu pemilik vila memaksimalkan tingkat hunian, meningkatkan pendapatan, dan tetap kompetitif melalui manajemen properti berbasis data.
Dibuat:
Waktu baca: 8 min
post image

Masa Depan Sewa Jangka Pendek di Bali: Apa yang Harus Diketahui Setiap Pemilik Properti

Pasar sewa jangka pendek di Bali berkembang pesat, menjadikan manajemen properti profesional lebih penting dari sebelumnya. Temukan tren yang membentuk investasi vila di Bali dan bagaimana Betterplace membantu pemilik memaksimalkan tingkat hunian, pendapatan, dan kesuksesan jangka panjang.
Dibuat:
Waktu baca: 10 min
post image

Mengapa Bali Tetap Menjadi Destinasi Wisata Teratas di Asia Tenggara pada Tahun 2026

Bertanya-tanya mengapa Bali terus memimpin industri pariwisata Asia Tenggara pada tahun 2026? Temukan tren pariwisata terbaru, pertumbuhan pengunjung, dan peluang investasi—dan lihat mengapa Betterplace tetap menjadi mitra terpercaya untuk investasi properti di Bali.
Dibuat:
Waktu baca: 0 min